
Seorang pendeta memelihara seekor burung beo yang pintar di rumahnya. Burung beo ini mahir menirukan suara sang pendeta. Suatu saat gereja bermaksud mengadakan renovasi. Pendeta pun menelepon toko material untuk memesan semen, tetapi meminta agar semen tidak perlu diantar dulu karena masih menunggu anggaran turun.
Sore hari Pendeta kaget melihat tumpukan semen di halaman gereja.
"Ini pasti ulahmu," katanya pada si burung beo.
"Bukan aku, bukan aku," jawab beo. Pendeta pun menelepon toko untuk mengambil kembali semennya.
Keesokan harinya kejadian yang sama terulang. Pendeta kembali menginterogasi burung beo. "Bukan aku, bukan aku," si burung tetap tidak mengaku.
"Satu kali lagi kau melakukan ini, tidak ada ampun. Akan kusalib kau hidup-hidup," ancam Pendeta.
Ternyata hari berikutnya hal yang sama terjadi lagi. Pendeta jengkel bukan kepalang. Si beo pun disalib dan digantung di dinding rumah. Beo menangis karena menyesal. Lalu ia menoleh ke samping dan melihat patung Yesus di kayu salib.
"Ssst...!" bisik beo. "Kamu mesen semen juga ya?"