Minggu, 21 Agustus 2011

Tebak-tebakan

Dono memberi tebak-tebakan kepada Bisma temannya.

"Coba tebak. Orang tua kami sama, tetapi dia bukan kakak saya, bukan pula adik saya. Siapakah dia?"

Bisma berpikir keras, tetapi tak menemukan jawaban. "Wah, saya menyerah. Siapa orang itu?"

"Saya sendiri," jawab Dono sambil tertawa. Bisma ikut terbahak-bahak.

Pada saat berkumpul dengan teman-temannya, Bisma teringat akan teka-teki dari Dono. Ia pun menantang teman-temannya untuk menebak.

"Orang tua kami sama, tapi dia bukan kakak atau adik saya. Siapa dia?"

Teman-temannya tak ada yang dapat menebak. Penasaran, mereka mendesak Bisma untuk mengatakan jawabannya. Dengan bangga Bisma berkata, "Dono, teman saya."

Kelewatan

Seorang mahasiswi naik bus kota. Karena bus penuh sesak, ia hanya bisa berdiri. Di sampingnya duduk seorang pemuda yang sedang asyik membaca.

Setelah bus berjalan beberapa lama, si pemuda berdiri bermaksud memberikan tempatnya buat si gadis. Tapi mahasisiwi itu menolak dengan halus dan tetap berdiri.

Tak lama kemudian, kembali si pemuda berdiri, mempersilahkan si gadis untuk duduk. Lagi-lagi ditolak.

Menjelang halte ketiga, si pemuda berdiri lagi lalu berkata kepada mahasisiwi, "Mbak, kasih jalan dong. Saya sudah kelewatan dua halte gara-gara Mbak tidak mau pindah dari situ!"

Pendeta dan Persembahan

Tiga orang pendeta saling bercerita tentang cara mereka memberi persembahan untuk Tuhan.

Pendeta 1 berkata, "Aku membuat lingkaran besar dan berdiri di dalamnya. Uang persembahan kulempar ke atas. Yang jatuh di dalam lingkaran itu milikku, yang di luar itu milik Tuhan."

Pendeta kedua, "Kalau aku membuat garis dan berdiri di sebelah kiri. Uang yang jatuh di sebelah kiri jadi punyaku, di sebelah kanan buat Tuhan."

Pendeta ketiga membalas dengan tenang, "Aku tidak membuat apa-apa. Cukup dengan melempar uang ke atas. Tuhan akan mengambil sendiri kepunyaanNya. Uang yang jatuh jadi milikku."

Jumat, 05 Agustus 2011

Kesempatan dalam Kegelapan

Di sebuah kereta, seorang nenek duduk bersebelahan dengan seorang gadis cantik nan seksi. Berhadapan dengan mereka adalah seorang tentara dan seorang pemuda.

Saat kereta sedang memasuki terowongan sehingga keadaan menjadi gelap gulita, tiba-tiba terdengar suara kecupan yang disusul bunyi tangan menampar sesuatu.

Nenek berkata dalam hati, "Kasihan wanita muda di sebelahku ini, jadi korban pelecehan."

Si gadis sibuk dengan pikirannya, "Kasihan sekali orang yang mencium itu. Pasti dikiranya aku yang diciumnya, padahal nenek-nenek."

Si tentara membatin sambil mengusap-usap pipinya yang perih, "Sialan. Siapa yang mencium, siapa yang ditampar?"

Si pemuda tersenyum puas sambil berkata dalam hati, "Kapan lagi bisa nampar tentara. Padahal tadi aku mencium tanganku sendiri."

Senin, 01 Agustus 2011

Teka-Teki Pintar si Pirang

Dalam penerbangan dari Los Angeles ke New York, seorang gadis berambut pirang dan seorang pengacara duduk bersebelahan. Mungkin karena bosan, si pengacara bertanya pada si gadis apakah ia ingin main tebak-tebakan. Dengan sopan gadis itu menolak, dan bersiap-siap untuk tidur.

Si pengacara mendesak dan menjelaskan, "Saya akan beri Anda satu pertanyaan. Jika Anda tidak bisa menjawab, Anda harus membayar saya 5 dolar, begitu juga sebaliknya." Lagi-lagi si gadis menolak.

Tak mau menerima penolakan, pengara pun berkata, "Begini saja, kalau Anda tidak bisa menjawab, Anda bayar saya 5 dolar. Dan kalau saya yang tidak bisa menjawab, saya akan beri Anda 500 dolar."

Penawaran ini cukup menarik bagi si gadis, sehingga ia pun setuju. Pengacara mengajukan pertanyaan, "Berapa jarak dari bumi ke bulan?"

Gadis itu tak menjawab, tetapi ia mengeluarkan uang 5 dolar dan menyerahkannya pada si pengacara. "Kini giliranmu," kata pengacara senang.

"Apa yang naik ke bukit dengan tiga kaki dan turun dengan empat kaki?"

Bingung, pengacara pun membuka laptopnya dan mencari berbagai macam referensi, mengirim e-mail kepada teman dan rekan kerjanya tetapi tidak menemukan jawaban. Akhirnya setelah satu jam berjuang ia menyerah dan membangunkan si gadis, sambil menyerahkan uang 500 dolar. Gadis itu mengucapkan terima kasih lalu bersiap meneruskan tidurnya kembali.

"Hei, jawabannya apa sih?" tanya pengacara dengan kesal.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, gadis pirang itu merogoh dompetnya dan menyerahkan uang 5 dolar
kepada pengacara.

Lebih Parah

Seorang wanita naik bus sambil menggendong bayi. Supir bus berkomentar, "Ini bayi paling jelek yang pernah kulihat." Walaupun hanya berupa gumaman pelan tapi sampai ke telinga si wanita. Dengan wajah merah  menahan marah, ia pun bergegas menuju tempat duduk di barisan belakang.

Seorang pria yang sudah lebih dulu duduk melihat kekesalan di wajah si ibu, dan menanyakan apa gerangan yang terjadi.

"Supir bus itu telah menyinggung perasaan saya. Sungguh saya tak bisa menerimanya," jawab si ibu dengan emosi meluap-luap.

"Keterlaluan," balas si pria. "Seharusnya sebagai pelayan masyarakat dia tidak boleh seenaknya menyakiti hati warga." Lalu ia mengusulkan agar wanita itu mengungkapkan rasa sakit hatinya pada supir bus.

"Baiklah, saya pun tak dapat menahan lebih lama lagi," kata si ibu. "Akan saya beritahu dia bagaimana caranya bersikap!"

"Bagus," balas si pria lagi. "Pergilah ke sana. Sini, biar saya gendong dulu monyet Anda."