Senin, 07 November 2011

Pertandingan Catur

Dua orang grandmaster catur sedang bertanding di ajang kelas dunia. Pertandingan itu diliput oleh puluhan televisi dan disiarkan ke seluruh penjuru dunia. Keduanya duduk berhadapan dengan wajah serius, memeras otak memikirkan langkah yang akan dimainkan selanjutnya. Para penonton menunggu dengan sabar. Berjam-jam mereka menunggu, tapi tak ada gerakan apa pun di meja pertandingan.


Setelah 3 jam sejak langkah terakhir dijalankan, salah seorang grandmaster berbisik pada lawannya, "Sebenarnya sekarang giliran siapa yang harus jalan?"

Sang lawan pun menjawab dengan bisikan pula, "Aku baru mau bertanya padamu."

Minggu, 06 November 2011

Tiga Tusukan

Sepasang suami isteri menghadiri kebaktian di gereja. Si isteri memutuskan telah tiba saatnya untuk menghentikan kebiasaan suaminya tidur selagi misa berlangsung. Ia pun menyiapkan peniti dan bertekad untuk menusuk suaminya setiap kali suaminya itu jatuh tertidur.

Baru saja dimulai, sang suami sudah kelihatan mengantuk. Pendeta bertanya pada jemaat yang hadir, "Siapa yang menciptakan alam semesta dan segala isinya?" Si isteri segera menusuk lengan suaminya dengan peniti. Suami pun menjerit karena kesakitan, "Tuhanku!"

Tak lama Pendeta bertanya lagi, "Dan siapa yang mati di kayu salib demi menebus dosa manusia?" Sekali lagi isteri menusuk suaminya, "Yesus Kristus!" teriak suaminya.

Untuk ketiga kalinya ia tertidur, bertepatan pula Pendeta bertanya, "Apa yang dikatakan Hawa kepada Adam waktu ia tahu dirinya telah hamil untuk yang kedua kalinya?"

Isteri pun menusuk suaminya lagi. Kali ini laki-laki itu terbangun dan dengan marah berteriak, "Demi Tuhan, sekali lagi kau menusukku dengan barang itu, akan kupatahkan barang itu!"

Jumat, 28 Oktober 2011

Malas Sekolah

"Bangun, Rio! Nanti kau terlambat ke sekolah!" kata seorang ibu pada anaknya.
"Aku tidak mau berangkat ke sekolah, Ma," jawab anaknya dengan malas. "Murid-muridnya berandal semua, guru-gurunya juga brengsek. Tak ada yang menyenangkan hatiku di sekolah."
"Tapi, Rio, umurmu sudah 43 tahun, dan kau kepala sekolahnya!"

Rabu, 26 Oktober 2011

Gara-gara Semen

Seorang pendeta memelihara seekor burung beo yang pintar di rumahnya. Burung beo ini mahir menirukan suara sang pendeta. Suatu saat gereja bermaksud mengadakan renovasi. Pendeta pun menelepon toko material untuk memesan semen, tetapi meminta agar semen tidak perlu diantar dulu karena masih menunggu anggaran turun.

Sore hari Pendeta kaget melihat tumpukan semen di halaman gereja.
"Ini pasti ulahmu," katanya pada si burung beo.
"Bukan aku, bukan aku," jawab beo. Pendeta pun menelepon toko untuk mengambil kembali semennya.

Keesokan harinya kejadian yang sama terulang. Pendeta kembali menginterogasi burung beo. "Bukan aku, bukan aku," si burung tetap tidak mengaku.
"Satu kali lagi kau melakukan ini, tidak ada ampun. Akan kusalib kau hidup-hidup," ancam Pendeta.

Ternyata hari berikutnya hal yang sama terjadi lagi. Pendeta jengkel bukan kepalang. Si beo pun disalib dan digantung di dinding rumah. Beo menangis karena menyesal. Lalu ia menoleh ke samping dan melihat patung Yesus di kayu salib.

"Ssst...!" bisik beo. "Kamu mesen semen juga ya?" 

Pemburu Bodoh

Robby dan Joni pergi berburu. Tiba-tiba Robby jatuh dan tak bergerak lagi. Dengan panik, Joni menelepon dokter kenalannya.
"Teman saya tiba-tiba jatuh dan mati! Apa yang harus saya lakukan?!"
"Jangan panik," kata dokter. "Pertama-tama Anda harus memastikan bahwa teman Anda itu memang  meninggal."
"Baiklah," kata Joni.
Tak lama kemudian dokter mendengar suara letusan, lalu Joni kembali berbicara di telepon. "Sudah, Dok. Selanjutnya apa?"